17 Juni 2020

Pura Dalem Jawa

 

 PURA DALEM JAWA

SEBAGAI SUNGSUNGAN JAGAT

Memiliki Keunikan Tersendiri


Ditulis oleh : Drs. I Made Seraya (Alm), Pemangku Pura Dalem Jawa terdahulu.

Mengwi, Maret 2004


Foto (Alm) Drs. I Made Seraya, penulis sekaligus Pemangku Pura Dalem Jawa terdahulu.

 

Atas Asung Kerta Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya artikel yang sederhana ini dapat disusun sesuai dengan rencana. Dalam artikel ini diangkat tentang asal-usul Pura Dalem Jawa, dengan mengungkapkan beberapa hal yang berkenan dengan latar belakang, identitas, sepintas mengenai langkah subakti para penyungsung dan butir-butir yang dianggap relevan dengan kronologis berdirinya pura tersebut. Demikian pula isinya hanya sebatas bahan informasi awal bagi yang memerlukan.

Penulis menyadari bahwa artikel ini belum mampu menjawab segala permasalahan global atau multidimensional mengenai Pura Dalem Jawa sebagai Sungsungan Jagad. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi lengkapnya artikel ini sangat diharapkan.

Akhir kata perkenankan penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sampai dapat terwujudnya artikel ini.


Mengwi, Maret 2004

Penulis,


PURA DALEM JAWA

SEBAGAI SUNGSUNGAN JAGAT

Memiliki Keunikan Tersendiri

 

Akhir-akhir ini semakin banyak jumlah pemedek (umat) baru, hadir sembahyang di Pura Dalem Jawa. Pemedek baru itu ialah mereka yang berasal dari luar kelompok keluarga penyungsung, sedangkan keluarga penyungsung itu ialah krama (masyarakat) yang sudah rutin subakti dan ikut serta bertanggung jawab terhadap keberadaan pura. Kehadiran pemedek baru tersebut tidak memilih waktu. Terkadang ada yang hadir perorangan atau bersama keluarga sering juga hadir berombongan. Memang sudah merupakan tradisi di Pura Dalem Jawa adalah tempat memohon keselamatan dalam berbagai hal terhadap Sesuhunan (leluhur) yang berstana disana, seperti memohon sukses dalam bidang studi, berhasil dalam bidang usaha, ketentraman dalam rumah tangga, pngobatan dan penyembuhan, terhindar dari malapetaka dan sebagainya.


Diantara sekian banyak orang pedek - tangkil, ada pula diantara mereka ingin mendapatkan informasi seperlunya. Oleh sebab itu para pejuru dan pemuka pura bermaksud memiliki suatu catatan mengenai asal-usul dan keberadaan Pura Dalem Jawa, untuk penuntun bila memberikan informasi kepada mereka yang memerlukan. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya penjelasan yang simpang siur dapat dihindari. Karena ada maksud seperti itu, selanjutnya penulis berusaha mewujudkan naskah kecil ini, dengan harapan agar berguna menurut relevasinya.


Gapura atau pintu masuk Jeroan (Utama Mandala) Pura Dalem Jawa


Tulisan ini dipetik dari naskah yang pernah penulis susun berdasarkan data dan fakta yang diperoleh melalui hasil pengamatan dan melakukan partisipasi aktif sebagai salah seorang penyiwi pura. Ditambah hasil wawancara dengan para narasumber yang terpilih, para tokoh dan pemuka masyarakat. Semuanya dirangkum dengan hasil studi kepustakaan melalui pembahasan atau kajian sejumlah karya tulis dan buku-buku yang ada kaitannya dengan masalah ini. Melalui usaha demikian dapatlah disimak beberapa hal yang berkenaan dengan keunikan Pura Dalem Jawa, kait-mengait dengan unsur-unsur sejarah wilayah Mengwi dan kawasan sekitarnya, antara lain seperti ungkapan di bawah ini.


Pura Dalem Jawa disungsung oleh semua golongan, yaitu golongan Tri Wangsa dan golongan Jaba atau semua klan yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Mereka menghimpun diri atas dua kelompok yaitu kelompok Krama Carik (subak) Tinjakmanjangan dan kelompok pemaksan. Hari piodalan-nya tepat pada tanggal: pengelong - pisan, yaitu sehari lewat bulan purnama yang muncul sesudah tiga hari atau lebih dari Hari Selasa kliwon (anggara kasih) wuku Medangsia.


Gapura (pintu depan) Jaba sisi Pura Dalem Jawa di pinggir jalan raya jurusan Denpasar - Singaraja


Kawasan pura tersebut semula merupakan kawasan suci, berada hampir di tengah-tengah hamparan sawah yang cukup luas diantara Desa Mengwi dan Denkayu (Werdhibuana). Tempat itu berada di pinggir jalan raya jurusan Denpasar - Singaraja, kurang lebih 17 km dari kota Denpasar. Karena perkembangan zaman, kini di sekitar pura sudah banyak ada rumah penduduk, pertokoan, dagang, bangunan sekolah, dan lain-lainnya.


Foto bebaturan di Pelinggih Ratu Ngurah Pura Dalem Jawa


Foto bebaturan di Pelinggih Ratu Ngurah Pura Dalem Jawa


Foto bebaturan di Pelinggih Ratu Ngurah Pura Dalem Jawa


Menurut pandangan dan keyakinan para penyungsung, begitu pula masyarakat di sekitarnya, kawasan pura itu sangat angker dan keramat. Disitu terdapat onggokan batu di atas sejumlah bebaturan, dipercaya sangat bertuah dan sebagai media pemujaan roh suci manifestasi Sang Hyang Widhi. Salah satu diantaranya disebut Pelinggih Ratu Ngurah, tempat memohon keselamatan, pengobatan dan penyembuhan, serta terhindar dari segala penyakit. Hasil pengamatan para peneliti sejarah dan arkeologi, hal seperti itu menggambarkan adanya Budaya Megalitik (zaman batu) yang hidup dan berkembang mulai zaman prasejarah dan Bali - kuna, seterusnya berlanjut pada zaman-zaman berikutnya.


Pelinggih Penguluncarik di Jeroan Pura Dalem Jawa


Dikawasan suci dan keramat tersebut juga berdiri sebuah Pelinggih Penguluncarik, sebagai media pemujaan Dewi Sri, tempat memohon kesuburan di sawah bagi krama carik, dan pemujaan terhadap Sesuhunan yang berstana di Danau Beratan (Bedugul) sebagai pusat mata air tertinggi. Bagi wilayah setempat, Pelinggih Penguluncarik itu adalah sungsungan Krama Subak Tinjakmanjangan sejak dahulu sampai kini.


Beberapa sumber menjelaskan, kehidupan tradisi pertanian dengan sistem subak di Bali sudah muncul dan berkembang pada zaman Bali - kuno, selanjutnya sinkron menyatu dengan konsep-konsep ajaran Agama Hindu sejak zaman Bali - kuno, dan seterusnya sistem subak dianut oleh masyarakat Bali. Barangkali demikian halnya keberadaan sistem subak sawah yang terletak di wilayah Mengwi, khususnya Desa Denkayu dan sekitarnya sudah ada sebelum Kerajaan Mengwi berdiri.


Berdirinya Kerajaan Mengwi, di bawah kekuasaan I Gusti Agung Putu sebagai Raja I (pertama), semula berkedudukan di wilayah Belayu, kemudian pindah dan berkedudukan di kawasan Bekak - Mengwi. Dengan sendirinya menambah peluang bagi para petani dan pedagang dalam usaha meningkatkan hasil produksi dan pemasaran. Artinya sistem perekonomian wilayah Kerajaan Mengwi meningkat dan berkembang.


Perkembangan Kerajaan Mengwi menguasai Buleleng, Jembrana, dan sampai wilayah Blambangan - Jawa, hal mana dapat mengangkat derajat Kerajaan Mengwi. Karena itu pernah memegang hegemoni tertinggi di Bali, di bawah Raja I Gusti Agung Putu, dengan gelar Cokorda Sakti Blambangan. Hubungan Mengwi dengan wilayah kekuasaannya menjadi akrab.


Dalam rangka menyukseskan pembangunan yang meliputi berbagai sektor, Cokorda Sakti Blambangan didampingi para petinggi kerajaan, mustahil tidak melibatkan para pekerja atau tenaga teknis yang berasal dari daerah-daerah kekuasaan Mengwi sendiri. Bagi pekerja yang terpilih, biasanya mereka merasa mendapat kehormatan. Sebagai seorang abdi-dalem dapat bersama-sama menunjukkan  pengabdian sesuai bidang dan profesinya masing-masing, merupakan kebanggaan baginya.


Mengwi diperintah seorang raja yang arif dan bijaksana, sakti dan berwibawa, disamping memperluas wilayah kekuasaan, sektor pembangunan pusat kerajaan kiranya mendapat prioritas juga. Raja didampingi oleh para Begawanta, patih, dan para petinggi kerajaan, tentu saja penerapan konsep Tri Hita Karana, Tri Mandala, Tri Angga, dan konsep-konsep yang lain, tampaknya dijadikan landasan pokok dalam rangka mewujudkan pembangunan. Salah satu diantara semua sektor pembangunan, yang paling unik ialah pembuatan saluran air bersih. Semua pihak rasanya menyadari bahwa air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan, memang patut mendapat perhatian dan prioritas.


Jaba Pura Dalem Jawa yang dikelilingi Telaga (kolam ikan)

Jaba Pura Dalem Jawa


Para informan menjelaskan berdasarkan tutur turun-temurun, bahwa benda berupa gorong-gorong batu yang diamankan di Jaba Pura sekarang, bekas saluran air dari Goa Landak menuju kawasan Bekak adalah buatan orang-orang Jawa. Letak Goa Landak itu berada di sebelah Barat Desa Banjarsayan dan di sebelah Timur Laut wilayah Desa Belayu. Panjang saluran air itu diperkirakan antara empat sampai lima kilometer. Dahulu gorong-gorong itu jumlahnya banyak dan pemasangannya sambung-menyambung melintasi kawasan Jaba sisi tempat suci dan keramat tersebut di atas.


Memperhatikan penjelasan informan dan adanya bukti peninggalan berupa gorong-gorong khusus dalam mengerjakan pemasangan saluran air bersih, barangkali para pekerja dari Blambangan – Jawa ikut berperan sebagai tenaga andalan. Mereka ditampung dan ditempatkan terpisah dengan masyarakat Mengwi, yaitu pada kawasan kritis, tenget (angker), berada pada Pura Penguluncarik tersebut di atas.


Belasan tahun hubungan antara Blambangan dengan Mengwi dibawah kekuasaan Raja I, I Gusti Agung Putu alias Cokorda Sakti Blambangan, yaitu sejak wilayah Blambangan dikuasai Kerajaan Mengwi pada tahun 1729 sampai berakhirnya riwayat Ratu Mas Sepuh di Pantai Seseh – Cemagi tahun 1745. Bisa jadi kedatangan orang–orang Blambangan – Jawa secara bertahap. Mereka yang hadir di Mengwi semuanya ditampung pada tempat yang sama, dibawah Mekel atau Prebekel (Desa) Batantanjung atas perintah Ida Cokorda Mengwi.


Karena mereka tergolong pendatang baru dari Jawa dan memeluk agama Hindu juga, kiranya wajar mereka bersama melakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dengan memilih tempat suci tersebut, tentu atas seizin pengawas dan pimpinan krama carik setempat. Orang–orang Jawa hidup berkelompok dalam kurun waktu yang cukup lama pada suatu tempat terpencil. Sebagai umat beragama Hindu mereka memerlukan tempat pemujaan, kuburan disamping tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Wajarlah kiranya kelompok orang–orang Jawa yang berdomisili pada suatu tempat oleh masyarakat dinamakan Banjar waru (banjar baru) atau Banjar Jawa (Banjar di Bali setingkat Rukun Tetangga di wilayah luar Bali).


Budaya orang Bali yang berlandaskan etika ke Hindu-an pada umumnya tampil luwes dengan rasa toleransi yang mendalam, bila menerima kehadiran pendatang baru dengan mudah dapat menerimanya. Para pendatang atau para pekerja dari Blambangan – Jawa, bekerja dengan penuh rasa pengabdian, selalu bekerja–sama sambil memelihara kawasan tempat tinggal, telajakan pura tentu diperhatikan juga. Suasana damai dan penuh pengertian dari semua pihak terutama mengenai kegiatan mereka memelihara tempat pemujaan dapat dikatakan suatu usaha melanjutkan pembangunan Pura Dalem yang berada di Banjar Jawa yang sudah ada jauh sebelum Kerajaan Mengwi berdiri, walaupun dalam wujud yang sederhana.


Kehadiran Ratu Mas Wilis di Mengwi, membawa laporan keadaan pemerintahan di Blambangan, diiringi para pengikutnya dengan jumlah cukup banyak. Selanjutnya oleh Pangeran Danuningrat alias Ratu Mas Sepuh dari Blambangan, atas undangan Cokorda Mengwi, diiringi pula oleh para pengikutnya dan pengawal berjumlah cukup banyak pula. Mungkin tidak semuanya tertampung di Banjar waru atau Banjar Jawa, barangkali ada yang tinggal di desa-desa lain. Tetapi Ratu Mas Sepuh sendiri diduga pernah tinggal bersama rakyat Blambangan di Banjar Jawa sebagai seorang Pangeran yang amat dikagumi kesaktiannya dan memeluk Agama Hindu, tentu saja memberi petuah dan petunjuk dalam rangka menyempurnakan tata susunan Pelinggih sebagai media pemujaan Sang Hyang Widhi dan pemujaan yang ditujukan ke Blambangan – Jawa. Dengan demikian, pola bangunan pura menjadi lengkap menurut keperluan dan kepentingan para penyungsung pada waktu itu, tanpa menghilangkan pelinggih–pelinggih yang sudah ada.


Foto Arca Pendeta di Pelinggih Jaba Pura yang dihias saat piodalan Pura Dalem Jawa


Patung di pintu masuk menuju Jeroan (Utama Mandala) Pura Dalem Jawa


Patung Naga di balik Gapura Jeroan Pura Dalem Jawa


Berdasarkan bukti–bukti peninggalan dan menurut fungsinya, pura yang dibangun di kawasan itu menggambarkan tempat pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasinya yang bersifat Ciwaistis, menyatakan dengan sifat-sifat seperti ajaran agama Buddha, yang sudah yang sudah hidup dan berkembang pada zaman lampau di Bali dan di Jawa. Diantara bukti peninggalan yang masih ada, seperti Arca Batu Padas memiliki bentuk struktur dan gaya yang khas, cenderung penampilannya seperti Pendeta Buddha. Dua buah arca batu padas yang lain berwujud Pendeta Çiwa, selain itu ada Pratima kayu cendana berwujud Ganesha dengan wahana seekor macan dan pecanangan singa bersayap. Semuanya menggambarkan pemujaan manifestasi Tuhan yang bersifat Ciwaistis. Disamping itu adanya Pelinggih Penguluncarik yang disungsung krama subak. Dengan demikian Pura Dalem yang berada di Banjar Jawa adalah perpaduan antara pura yang bersifat umum dan pura fungsional [Sejarah Bali, 1986 : 88].


Segala kegiatan para pendatang di Banjar waru atau Banjar Jawa tersebut selalu di bawah pengawasan Mekel Batantanjung, dibantu oleh prajurit lainnya. Peristiwa seperti itu memberi suatu gambaran bahwa Pura Dalem di Banjar Jawa sudah berdiri sebelum Ratu Mas Sepuh pindah meninggalkan Banjar Jawa atau Banjar waru. Sejak beliau pindah sampai wafat di pantai Seseh – Cemagi, orang-orang Jawa di Banjar waru cerai-berai dan tidak jelas keberadaannya. Tetapi Pura Dalem tetap berdiri seperti semula sebagai Sungsungan Jagad. Selain itu bekas setra (kuburan) dan ruas gorong–gorong saluran air bersih juga merupakan peninggalan sampai sekarang.


Makin surutnya kekuasaan Raja–raja Mengwi dari zaman ke zaman, tentu sangat mempengaruhi kondisi kehidupan masyarakatnya. Kegiatan bidang pembangunan makin berkurang. Karena kalah berperang umumnya mengakibatkan kehancuran. Lebih–lebih lagi sampai runtuhnya Kerajaan Mengwi pada masa pemerintahan Raja X (kesepuluh) yang bergelar Cokorda Mantuk Dirana tahun 1891, sebagai generasi ke–6 setelah Cokorda Sakti Blambangan atau Cokorda Mengwi I (Pertama). Kehidupan masyarakat tentu mengalami berbagai perubahan.


Pengawasan dan Pemeliharaan Pura Dalem Jawa selanjutnya tetap ditangani keturunan Mekel Batantanjung, diantaranya bernama I Made Giyet bersama keluarganya dari klen Karangbuncing, didampingi Ida Ratu Brahmana Mas dari Griya Siangan Banjarwaru – Mengwi, dibantu krama penyungsung dan krama carik dari masyarakat setempat.


Sumur di Jeroan Pura Dalem Jawa


Suatu peristiwa yang patut dicatat ialah keadaan fisik bangunan Pura Dalem Jawa pernah hancur berantakan, akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1917. Tinggal beberapa bangunan saja yang masih berdiri diantaranya yaitu Pelinggih Ratu Ngurah, perigi (sumur), dan beberapa Pelinggih bebaturan tempat onggokan batu yang bernilai keramat, dan Pelinggih Penguluncarik.




Tembok penyengker di Pura Dalem Jawa


Tembok penyengker di Pura Dalem Jawa

Selanjutnya pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang dalam kurun waktu tahun 1943, pengempon pura keturunan Mekel Batantanjung tersebut memiliki profesi undagi (ahli bangunan tradisional), dukun pengobatan tradisional, dan mantan Kelian (ketua) Desa Adat Mengwi dengan nama panggilan Pan Gebrog (Pak Gebrog), bersama seorang istri dan tiga orang anak–anaknya yang masih dibawah umur, memondok atau nukuh bertempat tinggal di area belakang pura. Mereka menempati sebuah gubuk kecil dikelilingi Telaga (kolam ikan). Selama bertempat tinggal di area itu, sempat menggarap dasar–dasar Pelinggih dan tembok penyengker pura yang sudah runtuh. Semua gagasan rancangan pembangunan sebelumnya sudah dikonsultasikan dan mendapat restu dari Ida Ratu Kakiyang Lingsir Brahmana Mas dari Griya Siangan, Banjarwaru – Mengwi. Tetapi sayang, sebelum mencapai tujuannya, pada tahun 1943 karena lanjut umur dan jatuh sakit, selanjutnya mereka kembali ke alamat asalnya di Banjar Gambang – Mengwi dan kemudian meninggal dunia.


Foto Gedong Penyimpenan di Jeroan Pura Dalem Jawa


Pada zaman kemerdekaan tahun 1945, sekitar tahun 1950-1951 dan seterusnya, perbaikan pura itu mulai dilanjutkan oleh keturunan pengempon selalu didampingi Ida Ratu Kakiyang Lingsir bersama putra–putranya, dibantu oleh para penyungsung lainnya atas dasar swadaya sesuai kemampuan. Diantaranya dapat didirikan sebuah Gedong Penyimpenan, Padmasana, Candi bentar, dan tembok penyengker bagian depan, dalam keadaan belum berukir (metatah).


Berdasarkan keyakinan dan niat yang tulus, pada tahun 1963 pihak pengempon dibantu para penyungsung pernah membuat Pratima baru berwujud Ganesha, sebagai pengganti Pratima yang hilang pada saat gempa bumi Tahun 1917. Kemudian Pratima itu hilang lagi, semuanya dicuri maling. Selanjutnya bulan April 1982, dibuat lagi Pratima baru dengan wujud yang sama bahannya dari kayu cendana, berbentuk Ganesha, wahana seekor macan, dan pecanangan singa bersayap, lengkap dengan upakara–upacara yang memadai. Pada saat puncak Upacara Pemelaspasan, sempat hadir Ida I Dewa Agung Cokorda Mengwi meninjau dan memeriksa wujud Pratima tersebut serta melaksanakan mendem pedagingan.


Bale Panjang dikelilingi Telaga di Jaba tengah yang digunakan untuk rapat/musyawarah ataupun gong-gong pada saat Upacara Piodalan atau Melaspasan di Pura Dalem Jawa

Kurang lebih 10 tahun kemudian, pada bulan April 1992 disusul dengan pemugaran tembok penyengker bagian belakang dan pengukiran Pelinggih Padmasana, Gedong Penyimpenan, Pelinggih Penguluncarik, serta bangunan lainnya atas dana punia pengempon pura, lengkap dengan Upacara Pemelaspasan, diselenggarakan oleh penyungsung pura. Akhir–akhir ini atas kekompakan para penyungsung dan para pemedek dapat didirikan bale – panjang di Jaba tengah, diatas sebidang tanah yang merupakan dana punia (ibah) atas nama Jero Soka istri dari I Gusti Ngurah Tjeger, mantan Pekaseh Subak Tinjakmanjangan dan mantan Kelian Desa Adat Mengwi bersama–sama putra–putranya. Mereka berasal dari Jero Tangeb Banjar Gambang – Mengwi. Sebidang tanah tersebut berada dan menyatu dengan Madya Mandala (Jaba tengah) pura bagian Selatan.


Demikian sejak dahulu sampai sekarang, segala kegiatan di Pura Dalem Jawa ditangani bersama atas dana punia dan swadaya para pemedek dan penyungsung, di bawah prakarsa, tuntunan dan bimbingan dari pihak pengempon bersama Ida Ratu Brahmana Mas dari Griya Siangan Banjarwaru – Mengwi. Masalah pembangunan dan pemeliharaan fisik maupun non-fisik selalu dilaksanakan secara bertahap berlandasarkan keyakinan dan kemauan yang tulus ikhlas para penyungsung. Tentu saja atas paswecan (karunia) Sesuhunan di Pura Dalem Jawa. Sehingga semua kegiatan dapat berjalan dengan semestinya. Kerjasama, toleransi, saling asih dan saling asuh antar penyungsung adalah merupakan dambaan dan kebanggaan bersama. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan peswecan kepada umat-Nya.

 

Catatan:

Ringkasan ini dipetik dari artikel “Keunikan Pura Dalem Jawa Sebagai Sungsungan Jagad” ditulis oleh I Made Seraya dalam rangka pembuatan Dokumentasi dan Informasi Museum Bali, 1982.



DAFTAR PUSTAKA


MANUSKRIP DAN TRANSKRIPSI

Awig-awig Mengwi (transkripsi). Collectie V.E. Korn No. 438 Koninklijk Instituut Taal-Land-en Volkenkunde. Leiden.


Babad Arya Mengwi (manuskrip). Koleksi Griye Pidada Klungkung.


Babad Blahbatuh (transkripsi). Koleksi No. Va. 5035 Gedong Kirtya Singaraja.


Babad Mengwi (transkripsi). Koleksi No. Va. 1340/12 Gedong Kirtya Singaraja.


Babad Mengwi Collectie V.E. Korn. V 26 – 4 – 1940 No. 9 Algemeen Rijksarchief Den Haag.


Babad Mengwi (manuskrip). Collectie V.E. Korn. OR. 435. No. 179 Koninklijk Instituut voor Taal- Land-en Volkenkunde. Leiden.


Babad Tanah Blambangan (transkripsi). Koleksi No. Va Lembaga Penelitian Bahasa Singaraja.


Ndered (manuskrip). Koleksi No. NVC 235 Gedong Kirtya Singaraja.


Paswara Astanegara (transkripsi). Koleksi VC. 235 Gedong Kirtya Singaraja.


Yuda Mengwi (transkripsi). Koleksi VC. 501 Gedong Kirtya Singaraja.



BUKU-BUKU

Bagus, I Gusti Ngurah. Kebudayaan Bali, dalam Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djakarta : Djambatan, 1971.


Bawa Atmaja, Nengah DR, MA. Ganesa sebagai Avigneswara, Vinayaka dan Pengelukat, Paramita, Surabaya, 1999.


Darusuprapto, Babad Blambangan Pembahasan Suntingan Naskah Terjemahan. Sebuah Disertasi untuk memperoleh Derajat Doktor dalam Ilmu Sastra Yogyakarta : Universitas Gajah Mada, 1984.


Ekawana, I Gusti Putu dan I Dewa Kompyang Gede, Laporan Pura Dalem Jawa (Denkayu, Mengwi), Balai Arkeologi Denpasar, 1982.


Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Jakarta : Universitas Indonesia, 1975.


Haar, B. Ter. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Jakarta : Pradnya Paramita. 1953.


Kartodirdjo, Sartono. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia. Jakarta Gramedia, 1982.


___________ ( et al. ) Sejarah Nasional IV. Jakarta : Departemen P & K , 1979.


___________ ( et al ). Sejarah Nasional II. Jakarta : Balai Pustaka, 1977.


Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara Baru, 1979.


Kusuma, Rsi Ananda. Silsilah Orang-orang Besar dan Suci di Bali, Klungkung : Pustaka Ananda Saraswati, 1974.


Putra Agung, A.A. Gde. Pengertian Babad Di Bali, dalam Seminar Akademi Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, 1981.


Putra, Drs. I Gusti Agung Gede, “Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Bali” Proyek Penyuluhan Agama dan Penelitian Buku Agama, Pemerintah Daerah Tingkat I Bali. Denpasar, 1981.


Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Radar Jaya, 1982.


Sumber-Sumber Sejarah Arsip Nasional Republik Indonesia No. 4. Laporan Politik Tahun 1837. Djakarta, 1971.


Susanto, Astrid. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung : Binacipta, 1979.


Sutaba, I Made. “ Beberapa Catatan Tentang Tradisi Megalitik di Bali, Pertemuan Ilmiah Arkeologi”, Cibulan. 1980, Hal.27-35.


Tista, Dra. I Gusti Ayu dkk, “Sejarah Bali” Prtoyek Penyusunan Sejarah Bali, Pemerintah Daerah Tingkast I Bali, 1986.



MAJALAH

Sidemen, Ida Bagus. “Klungkung Sebagai Susuhunan Raja-Raja Bali dan Lombok” Widya Pustaka No.1. Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana, 1983.


Soehartono, “Bali pada Pertengahan abad ke XIX,” Kirsada No.1. 1969. Yogyakarta : Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, 1969.


Winarsih Arifin (Penyunting) : Babad Wilis (Naskah dan dokumen Nusantara), Lembaga Penelitian Perancis Untuk Timur Jauh (Ecole Francaise D’Extreme Orient) Jakarta-Bandung, 1980.

 

Foto Penulis Drs. I Made Seraya (Alm)


Dipublikasikan oleh : Ir. I Made Widhuarsa, Anak Pertama Penulis sekaligus Pemangku Pura Dalem Jawa saat ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pura Dalem Jawa